Kajian Kelayakan Penertiban dan Penataan Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Cirata

[cess.unpad.ac.id, 23/12/2019] Dalam kaitannya dengan kegiatan Citarum Harum, PULIK bekerjasama dengan PJB BPWC melaksanakan kegiatan kajian kelayakan penertiban dan penataan Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Cirata. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata di Jawa Barat dibangun pada tahun 1984 dan mulai beroperasi pada tahun 1988. Waduk Cirata merupakan salah satu waduk multiguna dengan fungsi utama adalah sebagai pembangkit listrik dengan kapasitas produksi 1.428 GWh/tahun. Selain itu Waduk Cirata pun memiliki 2 fungsi lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu sebagai pengairan irigasi dan budidaya ikan air tawar melalui teknik keramba jaring apung (KJA). Berdasarkan pada hasil sensus yang dilakukan oleh Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) tahun 2019 terdapat 93.641 petak KJA. Jumlah tersebut sangat jauh melampaui kuota yang ditetapkan oleh Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 660.31/Kep.923-DKP/2019, tentang Jumlah Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata, Waduk Saguling dan Waduk Jatiluhur yang Memenuhi Daya Dukung Lingkungan yang dibatasi dengan jumlah 7.204 petak KJA (untuk Waduk Cirata).

Sebagai usaha untuk menanggulangi masalah degradadasi lingkungan waduk akibat kegiatan KJA dan dalam rangka mendukung program Citarum Harum, BPWC bekerja sama dengan Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum pada tahun 2018 melaksanakan program penertiban dan penataan terhadap 10.000 petak KJA. Selanjutnya pada tahun 2019 dan seterusnya program penertiban dan penataan KJA akan tetap dilaksanakan sampai pada jumlah yang sesuai dengan Kep. Gub tahun 2019. Kegiatan lanjutan tersebut sudah dipastikan memerlukan sumber daya yang lebih besar serta perencanaan yang lebih baik agar dapat tercapainya lingkungan waduk yang baik dan tidak terganggunya sosial ekonomi masyarakat. Maka dari itu PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB) dan Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) bekerja sama dengan Pusat Unggulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan (PULIK) Universitas Padjadjaran untuk melakukan “Kajian Kelayakan Penertiban dan Penataan Keramba Jaring Apung.

Kajian Kelayakan Penertiban dan Penataan Keramba Jaring Apung merupakan kajian komprehensif dengan mengintegrasikan berbagai aspek keilmuan seperti kualitas air, perikanan, hidrologi, sosial, ekonomi dan budaya, kelembagaan, kebijakan dan hukum. Wilayah studi mencangkup area Waduk Cirata dan lingkungan sekitarnya yang meliputi daerah badan air Waduk Cirata, area lahan terestial greenbelt Waduk Cirata dan daerah tangkapan air (water catchment) Waduk Cirata. Pelaksanaan kajian dilakukan sejak bulan Agustus 2019 sampai bulan Desember 2019 yang terdiri dari kegiatan desk studi,  pengumpulan data lapangan serta diskusi dan konsultasi. Khusus untuk kegiatan pengumpulan data lapangan yaitu berupa pengambilan sampel air dan survai sosial ekonomi perikanan kepada para pelaku usaha budidaya ikan keramba jaring apung (KJA) baik itu pengelola KJA maupun buruh/pekerja KJA.